Kekuatan Maaf….

August 11th, 2005 by dgirls

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah
pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi
wa sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah
disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah
tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah,
langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala
Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang melihat gelagat buruk pada
penampilannya menghadang.

Umar bertanya, "Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?"
Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, "Aku datang ke negri ini hanya untuk membunuh Muhammad!".

Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya.
Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan
perlawanan. Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya
kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu
tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah.

Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu.
Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik.
Kemudian Nabi berkata pada para sahabatnya, "Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?".

Para shahabat Rasul yang ada di situ tentu saja kaget dengan pertanyaan
Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh
orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari
Rasulullah.
Maka Umar memberanikan diri bertanya, "Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!"
Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar.
Beliau berkata, "Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu".

Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah.
Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, "Ucapkanlah Laa ilaha illa-Llah (Tiada ilah selain Allah)."
Si musyrik itu menjawab dengan ketus, "Aku tidak akan mengucapkannya!".
Rasulullah membujuk lagi, "Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah."
Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, "Aku tidak akan mengucapkannya!"

Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram
terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah
membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit
seolah-olah hendak pulang ke negrinya. Tetapi belum berapa jauh dari
masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri.
Ia berkata, "Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muahammad Rasul Allah."
Rasulullah tersenyum dan bertanya, "Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?"
Tsumamah menjawab,
"Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena
khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu.
Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena
mengharap keredhaan Allah Robbul Alamin."

Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, "Ketika aku
memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi
setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang
lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah."

Karena Loker sedih itu Harus diisi….

August 6th, 2005 by dgirls

Sedih rasanya ketika melihat lab komputer penuh dengan teman-teman.
Sedih ga bisa sign in. Tiba-tiba saya bertanya pada diri, kenapa saya
harus sedih? Pertanyaan-pertanyaan pun muncul bak peluru yang
dimuntahkan. apakah saya kehilangan sesuatu, ataukah yang lain. Sedih
kenapa? Karena apakah saya harus bersedih. Pantaskah saya bersedih
karena tidak bisa sign in? Bukankah sudah mejadi peraturan tidak
tertulis di lab komputer, siapa yang datang terlebih dahulu dialah yang
berhak untuk Sign in ? Sign in dengan pasword mereka dan memulai
penjelajahan ke dunia cyber. Siapa datang terakhir antri atau silahkan
pergi. Sedih rasanya, padahal saya harus mencari jurnal-jurnal bahan
penelitian. Sedih.

Bentuk sedih tiap orang dan apa yang menyebabkan kesedihan itu berbeda.
Mungkin diantara kita ada yang sedang bersedih. Mungkin karena
merasakan langkah-langkah menjemput Unpredictable & unreasonable
person tak kunjung sampai di garis finish. Atau mungkin sedih karena
proses ta’aruf yang secara tiba-tiba dibatalkan sepihak, sedih karena
usulan Tugas Akhir kita ditolak oleh dosen pembimbing, sedih ketika
kita ditinggal oleh kedua orang tua yang sangat kita sayangi, sedih
karena hasil kerja kita tidak dihargai oleh atasan, sedih karena nilai
ujian yang jeblok, sedih karena anak atau saudara kita sakit, atau
sedihnya anak kost diakhir bulan melihat rangsum makanan menipis.

Apa itu sedih. Bukankah sedih itu adalah ketika kita tidak menerima
kenyataan yang sesuai dengan keinginan. Lalu bagaimana sedihnya para
sahabat Rosul? Bagaimana dan apakah yang membuat mereka bersedih?
apakah mereka akan bersedih karena tidak bisa sign in. Tampaknya tidak.
Luchu ya, saya menertawakan diri saya saat itu. saya sedih karena hal
yang sebegitu sepele.

Memang sedihnya para sahabat gimana ya? Kesedihan para sahabat kecil
ketika tidak diperbolehkan ikut berperang karena umurnya yang masih
kanak-kanak, Pada saat persiapan Perang Uhud. Sebelum pasukan
berangkat, banyak anak-anak yang sangat ingin ikut serta berjihad
bersama Rosul. Mereka masih belia, ada yang baru berusia 15 tahun
bahkan banyak yang lebih muda. Mereka adalah Usamah bin zaid, Abdullah
bin Umar, Zaid bin Tsabit, Barra bin Azib, Amru bin Hazm, Usaid bin
Zuhair, Rafi’ bin khudaij dan Samurah bin Jundab. Setelah diteliti
Rasulullah SAW, semuanya belum dianggap layak karena masih kanak-kanak
dan baru baligh. Mereka pun tampak Sedih.

Sedihnya salafus soleh yang tidak tahajud tadi malam, sedihnya sahabat
Umar bin khattab ketika tidak bisa sembahyang bareng-bareng berjamaah
bersama Rosul. Hingga beliau menginfakkan kebunnya.
Sedihnya sahabat….betapa malunya kita ketika sedih yang kita rasakan
bukanlah sedih para sahabat nabi dan sedih para sahabat nabi bukanlah
sedih kita (yang sesedih-sedihnya). Ingin menangis sedih, melihat diri
kita yang sedih, sedihnya berbeda dari sedihnya sahabat Rosul.

Sedih itu dapat diibaratkan seperti lautan, tiap-tiap degradasi warna
biru akan menandakan perbedaan kedalamannya. Seperti itu pula sedih,
sedih dalam hati kita ada yang dangkal dan ada pula yang dalam. Dilihat
dari kualitasnya, sedih bisa dibaratkan seperti loker. Loker teratas
atau loker pertama adalah sedih yang paling berkualitas, sedihnya para
sahabat Rosulullah. Kemudian loker nomor dua, yang kualitasnya dibawah
itu dan seterusnya.
Kenapa harus dilihat kualitasnya? Sedih seperti emosi yang lain
berpusat pada bagian otak bernama Amygdala. Telah Allah ciptakan sedih
dan perangkat untuk merasakannya, tentu bukanlah sesuatu yang sia-sia
bukan? Loker sedih nomor satu adalah loker sedih para sahabat nabi,
sedih berkualitas. Karena sedihnya itu akan mendekatkan diri mereka
kepada yang telah menciptakan rasa itu. Itulah yang saya maksud dengan
kualitas.

Dan perlu kita tanyakan ke diri kita masing-masing, apakah kita masih
mengisi loker teratas ini? Apakah kita sudah mencoba untuk mengisi
loker ini dengan sedih yang berkualitas, produktif. Ataukah loker
terbawah dari sedih yang sering kita isi, bahkan hingga penuh. File
sedih loker no 1-yang jelas saya percaya anda sudah bisa menyebutkan
sedih yang seperti apa yang akan mengisi loker sedih nomor satu (loker
punya anda sendiri).
Setidaknya, kita bisa melarikan sedih-sedih loker kedua kebawah
kepadaNya, yang telah menganugerahkan rasa itu (Conecting to Allah).
Sehingga ibaratkan hp, sinyal koneksi kita kepada Allah selalu penuh.
Bukan sedih yang membuat sinyal di layar kehidupan kita empty atau no
signal.
Karena hidup tak selalunya indah,
Langit tak selalu cerah,
suram malam tak berbintang
Setitis derita melanda, segunung karuniaNya

sumber : izza

cEwEk, WaniTa, PereMpuAn…

August 6th, 2005 by dgirls

Ia lembut bukan untuk diinjak,
rumput yang lembut akan dinaungi oleh pohon yang kokoh dan rindang.
Jika lelaki berpikir tentang perasaan wanita,
itu sepersekian dari hidupnya….
tetapi jika perempuan berpikir tentang perasaan lelaki,
itu akan menyita seluruh hidupnya…
Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki- laki,
karena perempuan adalah bagian dari laki-laki…
apa yang menjadi bagian dari hidupnya,
akan menjadi bagian dari hidupmu.
Keluarganya akan menjadi keluarga barumu,
keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga.
Sekalipun ia jauh dari keluarganya,
namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada karena ia lahir dan dibesarkan di sana….
karena mereka,
ia menjadi seperti sekarang ini.
Perasaannya terhadap keluarganya,
akan menjadi bagian dari perasaanmu juga…
karena kau dan dia adalah satu….
dia adalah dirimu yang tak ada sebelumnya….

mEmeLihaRa LuKa..

August 6th, 2005 by dgirls

Satu hal yang tidak aku suka dari diriku adalah ,
aku sering memelihara luka. Ketika ada seseorang
yang menancapkan belatinya tepat di hatiku, maka
seketika itu aku akan merasakan luka yang
dalam , menghujam sampai ke akar, meskipun aku
sadar sesungguhnya belati itu tidak pernah sampai
ke akar hatiku, tetapi aku selalu terus membiarkan
lukanya bernanah, membusuk dan sampai berbau.
Suatu saat belati-belati itu memang dicabut
kembali oleh pemiliknya, dengan maafnya, tetapi
bekas luka yang ditinggalkan tidak jua
kubersihkan. Justru aku lebih sering
memeliharanya dengan memberi pupuk,
menyiraminya dengan air dan cahaya yang cukup,
hingga luka itu dapat tumbuh subur. Ketika luka-
luka itu mulai mengakar, menyebar, rimbun dan
memenuhi rongga hatiku, maka cahaya matahari
menjadi sulit untuk masuk menyinari lahan hatiku.
Gelap, aku sulit melihat dan sesak untuk bernafas.
Di saat seperti itulah aku baru tersadar, bahwa
luka itu sudah sangat liar dan rimbun dahannya
tidak teratur bahkan menutupi ruang masuknya
cahaya. Aku memangkasnya sedikit demi sedikit,
dari mulai daunnya, dahan hingga yang paling
tersulit sekalipun, yaitu akarnya. Aku tidak ingin
menzolimi ruang hatiku dari hak nya mendapatkan
cahaya.
Aku tahu, sama sekali tidak ada manfaatnya
memelihara luka, justru akan mematikan rasa di
hatiku. Bahwa seperti hal nya aku, orang-orang
yang sudah melukai hatiku adalah juga manusia
biasa. Aku pun bukan tidak mungkin pernah juga
menanamkan benih luka di dalam hati sahabat-
sahabatku, dan aku juga tidak ingin mereka
memelihara luka yang pernah aku tancapkan dan
sudah kubersihkan dengan untaian maaf.
Aku sedang ingin berproses memiliki hati yang
bening, agar luka apapun yang pernah singgah,
tidak akan kubiarkan mengendap lama, karena
beningnya hatiku akan mampu menetralisir luka
itu. Allah yang sangat suci saja maha pemaaf, lalu
kenapa aku yang hina dina ini harus
mempertahankan egoku untuk sebuah kata maaf?
Aku tidak ingin lagi memelihara luka karena aku
tidak akan memanen buah yang manis, tapi justru
kehinaan yang kelak akan kudapat.

BUKU TELEPON…

August 5th, 2005 by dgirls

Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu percakapan yang menarik. Seorang guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas. Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan.

"Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini. Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuatmu bahagia? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini?" Murid-murid tampak saling pandang.
Terdengar suara lagi dari guru, "Ya,ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidupmu…". Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan guru itu menunjuk pada seorang murid. "Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui? Berbagilah dengan teman-teman! mu…"

Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid, "Seminggu yang lalu, adalah masa yang sangat besar buatku. Orangtuaku, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang aku impikan selama ini".
Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu.
"Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu!"

Sang guru tersenyum. Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya. Maka,terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir. Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri. Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung. Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara, hingga terdengar suara dari arah belakang.

"Pak Guru..Pak, aku belum bercerita".

Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar. Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya.

"Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua", ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu. "Apa hal terbesar yang kamu dapatkan?", Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.

"Keberhasilan terbesar buatku, dan juga buat keluargaku adalah..saat nama keluarga kami tercantum dalam buku telpon yang baru terbit 3 hari yang lalu".

Sesaat senyap. Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu. Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak mendengar cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang berkomentar, "Ha? aku sudah sejak lahir menemukan nama keluargaku di buku telpon. Buku Telpon? Betapa menyedihkan…hahaha".

Dari sudut lain, ada pula yang menimpali, "Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat sel! ain hal yang lumrah semacam itu?"

Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan. Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan.

"Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak…"

Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara. "Ya. Memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah aku dapatkan. Dulu, Ayahku bukanlah orang baik-baik. Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa dikejar polisi".
Matanya tampak menerawang. Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan.
"Tapi, kini Ayah telah berubah. Dia telah mau menjadi Ayah yang baik buat keluargaku. Sayang, semua itu butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja. Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Ayahku. Dan kini, Ayah berhasil. Bukan hanya itu, Ayah juga membeli sebuah rumah kecil buat kami. Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi". "Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluargamu ada di buku telpon? Itu artinya, aku tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan ayah untuk terus berlari. Itu artinya, aku tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang aku sayangi. Itu juga berarti, aku tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang dingin. Dan itu artinya, aku, dan juga keluargaku, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya". Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir.
"Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang aku dapatkan nanti…".

Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk. Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan.Mereka juga belajar satu hal :

"Bersyukurlah dan berbesar hatilah setiap kali mendengar keberhasilan orang lain. Sekecil apapun… Sebesar apapun".

wiSheS 4 You …..

August 5th, 2005 by dgirls

May you find serenity and tranquility
in a world you may not always understand.

May the pain you have known
and the conflict you have experienced
give you the strength to walk
through life facing each
new situation with
courage and optimism.

Always know that there are those
whose love and understanding
will always be there,
even when you feel most alone.

May a kind word, a reassuring touch,
and a warm smile be yours every day
of your life, and may you give
these gifts as well as receive them.

May the teachings of those you admire
become part of you,
so that you may call upon them.

Remember, those whose lives
you have touched and who have touched yours
are always a part of you,
even if the encounters were less
than you would have wished.
It is the content of the encounter
that is more important than it’s form.

May you not become too concerned
with material matters,
but instead place immeasurable
value on the goodness in your heart.

Find time in each day to see beauty
and love in the world around you.
Realize that what you feel you lack
in one regard you may be more
than compensated for in another.

What you feel you lack
in the present may become one
of your strengths in the future.

May you see your future
as one filled with promise and possibility.

Learn to view everything,
as a worth while experience.

May you find enough inner strength
to determine your own worth by yourself,
and not be dependent on another’s
judgment of your accomplishments.

tOucH mY LifE …

August 4th, 2005 by dgirls

TouCh mY LifE wiTh TenDernEss anD FiLL mY cUp wItH LovE
sHarE mY drEaMs aS I sHaRe YouRs BeyOncE The StarS abOvE

TakE mY HanD aS i gRow OLd anD LeaD mE wHeN i’M bLinD
sHow mE tHat YoU ReaLLy CaRe tO mE anD mY LifE

TouCh mY hEarT anD i’LL tOucH yOurS
a LitTLe mOrE eaCh DaY anD tHeN wE’LL boTh FinD HappInEs
sOmeWherE aLonG tHe waY

FloW oF LifE….

August 4th, 2005 by dgirls

If the sky above seems cloudy,
And you are left out in the rain,
If you are searching for a rainbow,
But the colors bring you pain,

If your world is not revolving,
And there is no end in sight,
If you are looking for the sunshine,
But all you see is night,

If all around are smiling,
But all you can do is frown,
If you are tired of all this living,
When life just brings you down,

Then look beyond your teardrops,
At the wonders of this land,
The beauty of a flower,
Like velvet in your hand.

Feel the air around you,
The smell of new mown hay,
Laughing children in the park,
The innocence there at play,

Imagine floating with a butterfly,
As she flutters between the trees,
Or the whispers of the ocean,
On warm hot summer’s breeze,

Think of the taste of candy floss,
As it melts upon your tongue,
Or the melody of morning birds,
As they greet each day with song,

Remember words of beauty,
Told in your mother’s embrace,
Feel the gentleness of her touch,
As she softly kissed your face,

Seek the good within you,
Cast the clouds from your sky,
Don’t look toward the pavement,
But hold your head up high,

Think not what life owes you,
But of all you have to give,
Forget about tomorrow,
Then you can start to live.

So Bless this age your are living in,
With the gifts you can bestow,
Don’t disregard the stream of life,
Go gently with the flow.

Membeli keajaiban …

August 1st, 2005 by dgirls

Sally baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya
sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Georgi. Ia sedang menderita
sakit yang parah dan mereka telah melakukan apa pun yang bisa mereka
lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal
yang sekarang bias menyelamatkan jiwa Georgi.

Tapi mereka tidak punya biaya untuk itu. Sally mendengar ayahnya
berbisik, "Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang."

Sally pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dari tempat
persembunyiannya. Lalu dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke
lantai dan menghitung secara cermat, tiga kali. Nilainya harus
benar-benar tepat.

Dengan membawa uang tersebut, Sally menyelinap keluar dan pergi ke toko
obat di sudut jalan. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker
memberi perhatian. Tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk
diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Sally berusaha
menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal.
Akhirnya dia mengambil uang
koin dan melemparkannya ke kaca etalase. Berhasil!

"Apa yang kamu perlukan?" tanya apoteker tersebut dengan suara marah.
"Saya sedang berbicara dengan saudara saya."

"Tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya," Sally
menjawab dengan nada yang sama. "Dia sakit… dan saya ingin membeli
keajaiban."
"Apa yang kamu katakan?," tanya sang apoteker.
"Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bias menyelamatkan jiwanya sekarang… jadi berapa harga keajaiban itu ?"

"Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Saya tidak bisa menolongmu."

"Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya."

Seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya, "Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu?"

"Saya tidak tahu," jawab Sally. Air mata mulai menetes di pipinya.
"Saya hanya tahu dia sakit parah dan mama mengatakan bahwa ia
membutuhkan operasi. Tapi kedua orang tua saya tidak mampu
membayarnya… tapi saya juga mempunyai uang."

"Berapa uang yang kamu punya ?" tanya pria itu lagi.
"Satu dollar dan sebelas sen," jawab Sally dengan bangga. "Dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini."

"Wah, kebetulan sekali," kata pria itu sambil tersenyum. "Satu dollar
dan sebelas sen… harga yang tepat untuk membeli keajaiban yang dapat
menolong adikmu". Dia Mengambil uang tersebut dan kemudian memegang
tangan Sally sambil berkata: "Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin
bertemu dengannya dan juga orang tuamu."

Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal.
Operasi dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu yang tidak lama
sebelum Georgi dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat. Kedua orang
tuanya sangat bahagia mendapatkan keajaiban tersebut. "Operasi itu,"
bisik ibunya, "seperti
keajaiban. Saya tidak dapat membayangkan berapa harganya".

Sally tersenyum. Dia tahu secara pasti berapa harga keajaiban
tersebut, satu dollar dan sebelas sen… ditambah dengan keyakinan.

neh artikel yg bagus bgt utk dibaca n diresapi maknanya…dgn membaca kisah ini, kita sebagai manusia tidak perlu takut dgn cobaan yg diberikan Allah kepada kita..karena Allah pasti akan memberikan jalan keluar yg terbaik utk kita..hanya perlu keyakinan, percaya kepada Yang Maha Esa..

Jodoh dan Kedewasaan Kita …

July 25th, 2005 by dgirls


Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para
Muslimah. Kemana pun mereka melangkah,
pertanyaan-pertanyaan "kreatif" tiada henti
membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang
pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda
menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku
jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau
jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?

Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita.
Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu
bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan
rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius
tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala
sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada
mulanya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian
masalah’, namun kemudian justru menjadi inti
permasalahan itu sendiri.

Di sini orang berlomba mengajukan "standardisasi"
calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan
luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang
keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.

Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan,
"Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?" Memang, ada
juga jawaban lain, "Saya tidak pernah menuntut. Yang
penting bagi saya calon yang shalih saja." Sayangnya,
jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai
menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar
senyum pun mahal.

Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih
cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat
superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon
memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah
menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah.
Pengalaman riil di lapangan kerap kali
menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama
ini.

Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung
pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu,
menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus
menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka
hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan
untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah,
bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang
India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa
kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku
dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang
kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap
menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri
untuk berletih-letih membina keluarga.

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan
individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih
berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai
penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa
yang dia impikan?

Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi
muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka
sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan
yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk
meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus
ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya.
Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan
itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari
siapa pun.

Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh,
jika kita tidak pernah siap untuk itu? "Tidaklah Allah
membebani seseorang melainkan sekadar sesuai
kesanggupannya." (QS Al Baqarah, 286). Di balik
fenomena "telat nikah" sebenarnya ada bukti-bukti
kasih sayang Allah SWT.

Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu
akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati
seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita
kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan
lapang dada.

Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun
bertanyalah, sudah dewasakah aku?