SANG RODA Yang Kehilangan JARInya
Thursday, September 22nd, 2005
Suatu ketika ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya,
ia tampak sedih tanpa jari-jari yang lengkap tentu, ia tak bisa lagi
berjalan dengan lancar.
Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan,
karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan
terlepas.
Kini sang roda pun bingung. Kemana kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu.
Sang roda pun berbalik arah dan kembali menyusuri jejak-jejak yang
pernah di tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu
demi satu di perhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan
di cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.
Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali
bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga
kecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan
kerikil-kerikil pualam.
Semuanya tampak lain. padahal sewaktu sang roda melintasi jalan itu
dengan laju yang kencang, semuahal tadi cuma berbentuk titik-titik
kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa, namun kini, semuanya
tampak lebih indah.
Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah dan mereka kini
tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum,
melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput
itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum
dan melanjutkan pencariannya.
Bunga-bunga pun tampak lebih indah harum dan semerbak, lebih terasa
menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang
cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang
roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun
merunduk, memberikan salam hormat.
Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya, kini semut dan
serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling
semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah.
Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh.
Mereka saling menyapa dan serangga itu pun memberikan salam, dan doa
pada sang roda.
Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda
jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan
setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi
dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda.
Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk
melanjutkan perjalanan.
Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang.
Sang roda pun senang dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan
berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.
Kita, seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu
kencang. Kita sering melupakan, ada saat-saat indah, yang terlewat di
setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil, yang sebetulnya
menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa.
Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target-target, yang membuat kita
hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang
selalu dalam keadaan panik, dan lupa, bahwa di sekitar kita banyak
sekali hikmah yang perlu di tekuni.
Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam,
kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Susuri kembali
jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah
kita lewati pastilah banyak mengandung hikmah yang akan membuat kita
semakin arif.
Masihkah kita harus hidup dalam ketergesaan,terburu-buru hanya demi
sebuah kata “TARGET”, padahal di perjalanan waktu kita telah diberikan
kesempatan oleh ALLAH Swt untuk berbuat yang terbaik, jika di tekuni
akan sampai juga pada target yang kita impikan itu.
Bukan berabrti memasang target menjadi tidak boleh, yang menjadi tidak
boeh adalah sifat buru-buru,ketergesaan,cemas,panik yang semuanya
adalah pekerjaan Syetan.
Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah berpesan dalam sebuah kitabnya :
“ Jika Sebuah pisang itu memang taqdirnya adalah milik kita walaupun
berjuta orang yang mengelilinginya kmaka akan tetap menjadi milik kita,
tetapi jika pun ada bertandan-tandan atau bersisir-sisir pisang jika
taqdirnya bukan milik kita walaupun di sana hanya ada satu orang maka
tidak akan sekali lagi tidak akan pernah kita miliki “
jika kita perumpamakan seperti seorang Pemuda kampung mengharap
istrinya adalah orang yang cantik jelita, kaya raya, keturunan mulia
untum menjadi istrinya jika taqdir ALLAH telah menggariskan sang gadis
adalah jodohnya walaupun di ujung kutub,dan berjuta-juta pemuda
kaya,ganteng,berpendidikan tinggi mengharapkannya pula maka akan tetap
menjadi jodoh sang pemuda kampung itu ( kayak aladin lah ghitu lho ),
tetapi jika sang gadis di taqdirkan ALLAH bukan menjadi jodohnya maka
cara apapun,tetangga sebelah rumah sekalipun maka sang pemuda tidak
akan dapat memilikinya, Demi ALLAH tidak akan.