mEmeLihaRa LuKa..
Satu hal yang tidak aku suka dari diriku adalah ,
aku sering memelihara luka. Ketika ada seseorang
yang menancapkan belatinya tepat di hatiku, maka
seketika itu aku akan merasakan luka yang
dalam , menghujam sampai ke akar, meskipun aku
sadar sesungguhnya belati itu tidak pernah sampai
ke akar hatiku, tetapi aku selalu terus membiarkan
lukanya bernanah, membusuk dan sampai berbau.
Suatu saat belati-belati itu memang dicabut
kembali oleh pemiliknya, dengan maafnya, tetapi
bekas luka yang ditinggalkan tidak jua
kubersihkan. Justru aku lebih sering
memeliharanya dengan memberi pupuk,
menyiraminya dengan air dan cahaya yang cukup,
hingga luka itu dapat tumbuh subur. Ketika luka-
luka itu mulai mengakar, menyebar, rimbun dan
memenuhi rongga hatiku, maka cahaya matahari
menjadi sulit untuk masuk menyinari lahan hatiku.
Gelap, aku sulit melihat dan sesak untuk bernafas.
Di saat seperti itulah aku baru tersadar, bahwa
luka itu sudah sangat liar dan rimbun dahannya
tidak teratur bahkan menutupi ruang masuknya
cahaya. Aku memangkasnya sedikit demi sedikit,
dari mulai daunnya, dahan hingga yang paling
tersulit sekalipun, yaitu akarnya. Aku tidak ingin
menzolimi ruang hatiku dari hak nya mendapatkan
cahaya.
Aku tahu, sama sekali tidak ada manfaatnya
memelihara luka, justru akan mematikan rasa di
hatiku. Bahwa seperti hal nya aku, orang-orang
yang sudah melukai hatiku adalah juga manusia
biasa. Aku pun bukan tidak mungkin pernah juga
menanamkan benih luka di dalam hati sahabat-
sahabatku, dan aku juga tidak ingin mereka
memelihara luka yang pernah aku tancapkan dan
sudah kubersihkan dengan untaian maaf.
Aku sedang ingin berproses memiliki hati yang
bening, agar luka apapun yang pernah singgah,
tidak akan kubiarkan mengendap lama, karena
beningnya hatiku akan mampu menetralisir luka
itu. Allah yang sangat suci saja maha pemaaf, lalu
kenapa aku yang hina dina ini harus
mempertahankan egoku untuk sebuah kata maaf?
Aku tidak ingin lagi memelihara luka karena aku
tidak akan memanen buah yang manis, tapi justru
kehinaan yang kelak akan kudapat.
August 6th, 2005 at 11:44 am
Dalam
kehidupan, seringkali tanpa sadar kita mencoba membandingkan kemajuan
dan perkembangan diri kita dengan standard orang lain. Dan seringkali
lebih banyak kekecewaan daripada kebahagiaan yang didapat. Mengapa?
Karena kita masing-masing dilahirkan dengan potensi yang berbeda,
dengan bakat yang berbeda, dalam lingkungan yang berbeda, dan cara pandang yang berbeda tentang kehidupan. Cara yang tepat untuk mengukur seberapa jauh diri kita telah berkembang dan maju, adalah membandingkan diri kita saat ini dengan diri kita dimasa lalu. Apakah anda hari ini lebih kaya
dibanding setahun yang lalu ? Apakah anda hari ini lebih bisa mengontrol
emosi dibanding bulan lalu ? Apakah anda hari ini lebih sehat dibanding
kemarin ? Apakah anda hari ini lebih bijaksana dibanding setahun yang
lalu ?
Saya Rasa, Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, namun
kemenangan atas diri kita sendiri.
Buat diri kamu hari ini selalu lebih baik dari hari kemarin. selamat bekerja serta sukses untuk kamu.
August 6th, 2005 at 12:01 pm
Terkadang ada saat-saat dalam hidup ketika engkau merindukan seseorang
begitu dalam, hingga engkau ingin mengambilnya dari angan-anganmu, lalu memeluknya erat-erat!
Ketika pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain terbuka; tetapi,
seringkali kita memandang terlalu lama pada pintu yang tertutup hingga kita tidak melihat pintu yang lain, yang telah terbuka bagi kita.
Jangan percaya penglihatan, penglihatan dapat menipu.
Jangan percaya kekayaan, kekayaan dapat sirna.
Percayalah pada dia yang dapat membuatmu tersenyum, sebab hanya senyumlah yang dibutuhkan untuk mengubah hari gelap menjadi terang.
Carilah dia, yang membuat hatimu tersenyum.
Angankan apa yang engkau ingin angankan, pergilah kemana engkau ingin pergi, jadilah seperti yang engkau kehendaki, sebab hidup hanya satu kali dan engkau hanya memiliki satu kesempatan untuk melakukan segala hal yang engkau ingin lakukan.
Semoga engkau punya cukup kebahagiaan untuk membuatmu tersenyum, cukup
pencobaan untuk membuatmu kuat, cukup penderitaan untuk tetap menjadikanmu manusiawi, dan cukup pengharapan untuk menjadikanmu bahagia.
Mereka yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki yang terbaik dari segala sesuatu, mereka hanya mengoptimalkan segala sesuatu yang datang dalam perjalanan hidup mereka.
Masa depan yang paling gemilang akan selalu dapat diraih dengan melupakan masa lalu yang kelabu, engkau tidak akan dapat maju dalam hidup hingga engkau melepaskan segala kegagalan dan sakit hatimu.
Ketika engkau dilahirkan, engkau menangis sementara semua orang di
sekelilingmu tersenyum.
Jalani hidupmu sedemikian rupa, hingga pada akhirnya engkaulah satu-satunya yang tersenyum sementara semua orang di sekelilingmu menangis.
Jangan hitung tahun-tahun yang lewat, hitunglah saat-saat yang indah..
Hidup tidak diukur dengan banyaknya napas yang kita hirup, melainkan dengan saat-saat di mana kita menarik napas bahagia, begitu barangkali kata orang bijak.
August 6th, 2005 at 7:08 pm
August 9th, 2005 at 3:50 am
ya namanya juga manusia nek, nggak luput dari kesalahan, nggak bisa memaafkan seseorang mungkin setiap orang pernah mengalaminya, tapi ketika kita sudah berhasil atau memaafkan seseorang ada rasa sendiri yang kita rasakan di hati kita, perasaan lega, tenang dan bahkan dengan kita bisa memaafkan kita bisa punya lebih banyak teman
hiehihihiheih
August 10th, 2005 at 4:02 am
hu uh ca…bener