Karena Loker sedih itu Harus diisi….

Sedih rasanya ketika melihat lab komputer penuh dengan teman-teman.
Sedih ga bisa sign in. Tiba-tiba saya bertanya pada diri, kenapa saya
harus sedih? Pertanyaan-pertanyaan pun muncul bak peluru yang
dimuntahkan. apakah saya kehilangan sesuatu, ataukah yang lain. Sedih
kenapa? Karena apakah saya harus bersedih. Pantaskah saya bersedih
karena tidak bisa sign in? Bukankah sudah mejadi peraturan tidak
tertulis di lab komputer, siapa yang datang terlebih dahulu dialah yang
berhak untuk Sign in ? Sign in dengan pasword mereka dan memulai
penjelajahan ke dunia cyber. Siapa datang terakhir antri atau silahkan
pergi. Sedih rasanya, padahal saya harus mencari jurnal-jurnal bahan
penelitian. Sedih.

Bentuk sedih tiap orang dan apa yang menyebabkan kesedihan itu berbeda.
Mungkin diantara kita ada yang sedang bersedih. Mungkin karena
merasakan langkah-langkah menjemput Unpredictable & unreasonable
person tak kunjung sampai di garis finish. Atau mungkin sedih karena
proses ta’aruf yang secara tiba-tiba dibatalkan sepihak, sedih karena
usulan Tugas Akhir kita ditolak oleh dosen pembimbing, sedih ketika
kita ditinggal oleh kedua orang tua yang sangat kita sayangi, sedih
karena hasil kerja kita tidak dihargai oleh atasan, sedih karena nilai
ujian yang jeblok, sedih karena anak atau saudara kita sakit, atau
sedihnya anak kost diakhir bulan melihat rangsum makanan menipis.

Apa itu sedih. Bukankah sedih itu adalah ketika kita tidak menerima
kenyataan yang sesuai dengan keinginan. Lalu bagaimana sedihnya para
sahabat Rosul? Bagaimana dan apakah yang membuat mereka bersedih?
apakah mereka akan bersedih karena tidak bisa sign in. Tampaknya tidak.
Luchu ya, saya menertawakan diri saya saat itu. saya sedih karena hal
yang sebegitu sepele.

Memang sedihnya para sahabat gimana ya? Kesedihan para sahabat kecil
ketika tidak diperbolehkan ikut berperang karena umurnya yang masih
kanak-kanak, Pada saat persiapan Perang Uhud. Sebelum pasukan
berangkat, banyak anak-anak yang sangat ingin ikut serta berjihad
bersama Rosul. Mereka masih belia, ada yang baru berusia 15 tahun
bahkan banyak yang lebih muda. Mereka adalah Usamah bin zaid, Abdullah
bin Umar, Zaid bin Tsabit, Barra bin Azib, Amru bin Hazm, Usaid bin
Zuhair, Rafi’ bin khudaij dan Samurah bin Jundab. Setelah diteliti
Rasulullah SAW, semuanya belum dianggap layak karena masih kanak-kanak
dan baru baligh. Mereka pun tampak Sedih.

Sedihnya salafus soleh yang tidak tahajud tadi malam, sedihnya sahabat
Umar bin khattab ketika tidak bisa sembahyang bareng-bareng berjamaah
bersama Rosul. Hingga beliau menginfakkan kebunnya.
Sedihnya sahabat….betapa malunya kita ketika sedih yang kita rasakan
bukanlah sedih para sahabat nabi dan sedih para sahabat nabi bukanlah
sedih kita (yang sesedih-sedihnya). Ingin menangis sedih, melihat diri
kita yang sedih, sedihnya berbeda dari sedihnya sahabat Rosul.

Sedih itu dapat diibaratkan seperti lautan, tiap-tiap degradasi warna
biru akan menandakan perbedaan kedalamannya. Seperti itu pula sedih,
sedih dalam hati kita ada yang dangkal dan ada pula yang dalam. Dilihat
dari kualitasnya, sedih bisa dibaratkan seperti loker. Loker teratas
atau loker pertama adalah sedih yang paling berkualitas, sedihnya para
sahabat Rosulullah. Kemudian loker nomor dua, yang kualitasnya dibawah
itu dan seterusnya.
Kenapa harus dilihat kualitasnya? Sedih seperti emosi yang lain
berpusat pada bagian otak bernama Amygdala. Telah Allah ciptakan sedih
dan perangkat untuk merasakannya, tentu bukanlah sesuatu yang sia-sia
bukan? Loker sedih nomor satu adalah loker sedih para sahabat nabi,
sedih berkualitas. Karena sedihnya itu akan mendekatkan diri mereka
kepada yang telah menciptakan rasa itu. Itulah yang saya maksud dengan
kualitas.

Dan perlu kita tanyakan ke diri kita masing-masing, apakah kita masih
mengisi loker teratas ini? Apakah kita sudah mencoba untuk mengisi
loker ini dengan sedih yang berkualitas, produktif. Ataukah loker
terbawah dari sedih yang sering kita isi, bahkan hingga penuh. File
sedih loker no 1-yang jelas saya percaya anda sudah bisa menyebutkan
sedih yang seperti apa yang akan mengisi loker sedih nomor satu (loker
punya anda sendiri).
Setidaknya, kita bisa melarikan sedih-sedih loker kedua kebawah
kepadaNya, yang telah menganugerahkan rasa itu (Conecting to Allah).
Sehingga ibaratkan hp, sinyal koneksi kita kepada Allah selalu penuh.
Bukan sedih yang membuat sinyal di layar kehidupan kita empty atau no
signal.
Karena hidup tak selalunya indah,
Langit tak selalu cerah,
suram malam tak berbintang
Setitis derita melanda, segunung karuniaNya

sumber : izza

3 Responses to “Karena Loker sedih itu Harus diisi….”

  1. loper Says:

    Persis kaya cerita kucing yang liat dirinya sendiri di cermin .. dan pada akhirnya dia tahu .. bahwa sedih, gembira, tertawa yang ada di cermin ( duni ) adalah datang dari dirinya sendiri .. :) bukan pada apapun .. :) tersenyumlah maka dunia akan tersenyum, menangislah maka dunia akan menangis :)
    salam

  2. uPhiK NeH Says:

    hu uh mas…aku jg pernah baca soal kucing yg bercermin..hmmm, mgk bener jg sih.semua itu tergantung diri kita sendiri.makasih

  3. EccA EuY Says:

    sedihhhhhhhhhhhh semua manusia pernah sedihhhhhhhhh, karena manusia nggak ada yg sempurna, aku tuh lo sedih terus heiheheiehieh sedih : sepet deh ih

Leave a Reply