Berandai…

Pekerjaan yang paling mudah dikerjakan adalah melamun.
Berandai-andai. Dalam lamunan, kita bisa menjadi apa saja dan melakukan
apa saja. Kita bisa berimajinasi menjadi Gatotkaca, superhero dari
Indraprasta yang berotot kawat, bertulang besi (mungkin karena rajin
minum susu berkalsium tinggi) lalu mengacak-acak Gedung Putih dan
menggantung Bush Jr. di ujung Patung Liberty. Biar nyahok (baca: tahu),
itulah bayaran menyakiti sesama kaum muslimin.
Dalam pengandaian, kita bisa membalik masa lalu. Make
everything right what gone wrong. Mungkin kita akan menuruti setiap
perintah ibu dan ayah kita, tidak akan menyakiti hati mereka. Kita juga
akan rajin mengerjakan PR sehingga tidak akan kena jewer atau kena
setrap wali kelas. Atau kita nggak bakal mau kenalan dengan video game
sehingga nggak akan addicted dengan ‘heroin’ elektronik itu. Buat
gadis-gadis yang pernah dihamili pacar-pacarnya mungkin akan berandai
nggak akan mengerjakan perbuatan terkutuk itu dan menanggung efek
depannya (suer, karena hamil memang melendung ke depan tidak ada yang ke
samping). Oh, we wish we can do that!
Tapi, mengandaikan sesuatu yang telah terjadi adalah kesia-siaan. Bahkan
tak terpuji. Masa lalu sudah terjadi, tak ada yang bisa mengubahnya.
Berandai-andai dengannya hanya memperpanjang penderitaan bahkan bisa
menjadi trauma. Itulah sebabnya Nabi saw. meminta kita untuk tidak
berandai-andai. Kata Beliau saw. "Jika sesuatu telah menimpamu maka
janganlah engkau sekali-kali berkata; ’seandainya aku melakukan begini
atau begitu maka hasilnya (pasti) begini’. Akan tetapi katakanlah:
‘Allah telah menakdirkan demikian, dan apa yang Dia kehendaki maka Dia
lakukan’."
Satu-satunya hal yang bisa kita kerjakan saat ini adalah menyimpan
kenangan pahit dalam folder memori kita. Ia adalah pelajaran yang tak
boleh terulang di masa depan. Bukankah keledai tidak akan jatuh ke dalam
lubang yang sama sampai dua kali? Dan, karena manusia bukan keledai –
bahkan bisa lebih bodoh dari keledai –, belajar dari kesalahan menjadi
penting. Muhammad the prophet says, "Tanda-tanda celakanya seseorang ada
empat; pertama, adalah melupakan dosa-dosa yang telah lalu padahal Allah
tetap mengingatnya…"
Jadi, biarkanlah air matamu meleleh dengan mengingat itu semua. That’s
better, ketimbang berandai-andai bisa mengulang masa lalu. Bila itu yang
kita lakukan, maka itu adalah sebuah kontemplasi. Merenung dan
memikirkan serta mencari pencerahan atas berbagai permasalahan kita.
Dan kontemplasi adalah perbuatan terpuji. Allah Swt. telah memerintahkan
manusia untuk banyak berkontemplasi. Di antaranya untuk memikirkan
kekuasaanNya, demi meneguhkan keimanannya.

”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergiliran siang dan
malam, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang
berakal, yakni yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan
berbaring dan memikirkan penciptaan langit dan bumi, kemudian berkata,
’Duhai Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan semua sia-sia, Mahasuci
Engkau dan selamatkanlah kami dari api neraka’.”(Ali Imraan: 190-191)

2 Responses to “Berandai…”

  1. loper Says:

    Aku tidak pernah merasa menemukan apa yang kucari sampai kutemukan sebuah kebahagiaan.

    (gak tau dapet darimana tuh :P)

  2. uPhiK NeH Says:

    :P

Leave a Reply