Archive for August, 2005

Saat Kalimat Tak Lagi Bermakna ..

Wednesday, August 24th, 2005

Beberapa pesan paling bermakna yang dikirimkan seseorang kepada orang
lain, seringkali hanya dituangkan dalam beberapa kata, dua atu tiga
kata. Saat kalimat tak lagi bermakna, kata-kata tersebut bisa menjadi
kekuatan baru yang akan mempermanis hubungan anda, baik dengan teman,
kekasih, rekan kerja ataupun keluarga.

Kata-kata ini akan mampu
memadamkan api yang membara, menghangatkan suasana dan menunjukkan pada
orang lain betapa anda sangat peduli dengan mereka.

Aku Selalu Bersamamu

Mendampingi seorang teman yang
tengah membutuhkan kehadiran kita, akan menjadi hal terindah yang bisa
kita berikan. Saat kita bersedia mendampingi orang lain sama halnya
kita telah menghadirkan suatu perasaan nyaman padanya atau bahkan pada
diri kita sendiri.

Hal ini akan memperat hubungan persahabatan
atu juga hubungan asmara. Kita akan disegarkan kembali secara fisik
maupun emosional. Mungkin bagi sebagian orang kata, ‘Aku selalu
bersamamu’ tak banyak berarti, namun bagi sebagian lainnya kata ini
bermakna sangat besar.

 

Aku Merindukanmu

Akan
banyak pernikahan bisa terselamatkan dan kian kokoh jalinannya jika
saja banyak pasangan bersedia meluangkan beberapa menit untuk sekedar
mengatakan ‘Aku merindukanmu’ pada pasangannya. Kata-kata ini
menunjukkan kepada pasangan bahwa kita mencintainya, merindukannya,
menginginkannya dan selalu mengingatnya.

 

Aku Menghormatimu

Menghormati
satu sama lain adalah satu jalan untuk menunjukkan kasih sayang. saat
kita menghormati seseorang, sama halnya dengan kita menempatkan orang
tersebut pada posisi yang sama dengan kita. Ini adalah cara paling
efektif untuk membina sebuah hubungan.

 

Mungkin Anda Benar

Kata
ini sangat bermakna saat digunakan dalam sebuah perdebatan ataupun
suasana yang diliputi emosi tinggi. Kata-kata ‘Mungkin Anda Benar’
adalah cara halus untuk mengakui ‘Bahwa Saya Salah’.

Maafkan Aku

Banyak hubungan yang bisa diperbaiki
kembali jika saja orang bersedia mengakui kesalahannya dan meminta
maaf. Semua orang tak pernah luput dari kesalahan, khilaf dan juga
cela. Seorang pria tak perlu merasa rendah hanya karena ia harus
mengucapkan kata maaf pada orang lain.

Terima Kasih

Tanpa
kita sadari kata ‘Terima Kasih’ sama halnya dengan sebuah penghargaan,
pengakuan kepada orang lain. Orang-orang yang menikmati hubungan yang
indah, tak pernah lupa untuk sekedar berterimakasih meskipun untuk
hal-hal kecil.

Kadang kita lupa bahwa untuk berterimakasih,
tidak harus selalu dengan kata-kata. Kita bisa melakukannnya dengan
tindakan lain, misalnya dengan memberi senyuman hangat atau tatapan
mata bersahabat.

Bersandarlah Padaku

"Teman sejati
berjalan masuk, ketika orang lain berjalan keluar". Kesetiaan adalah
unsur terpenting dalam sebuah hubungan. Sahabat yang baik akan selalu
ada saat dibutuhkan dan rela memberikan bahunya untuk tempat bersandar.

Biarkan Aku Membantumu

Teman
ataupun pasangan yang baik akan selalu mengerti apa yang kita butuhkan
dan berusaha untuk memenuhinya. Saat kita terluka, mereka akan mencoba
menyembuhkannya meski kita tak pernah mengatakan tentang luka itu.

 

Aku Mengerti

Seseorang
akan kian dekat dengan orang lain saat mereka merasa bahwa orang
tersebut menerima dan mengerti mereka. Menunjukkan pada teman atau
pasangan bahwa kita mengerti mereka, adalah jalan terbaik untuk menjaga
keutuhan sebuah hubungan.

Aku Selalu Mendukungmu

Beberapa
orang terdekat kita mungkin memiliki hoby dan kegemaran yang unik.
Mendukung dan selalu memberikan semangat akan lebih baik daripada kita
mempertanyakan hoby mereka. Ini akan membuat mereka menyadari bahwa
kita tak menganggap mereka berbeda.

Aku Menyayangimu

Dari
semua kata-kata yang telah saya paparkan diatas, tak ada yang akan
mampu menandingi efek kata ‘Aku Menyayangimu’. Ungkapkan kata ini pada
mereka yang anda anggap pantas menerimanya, untuk menunjukkan bahwa
mereka sangat istimewa untuk anda.


Bisikan Sebuah Batu…..

Sunday, August 21st, 2005

Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja
membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha,
sedang
menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh,
dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar.

Di
pinggir jalan, tampak seorang anak yang sedang berdiri. Namun, karena
berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak itu.
Tiba-tiba,
dia melihat sesuatu yang melintas dari arah mobil-mobil
yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu yang tampak
melintas. Aah..,ternyata, ada sebuah batu yang menimpa Jaguar itu. Sisi
pintu mobil itupun koyak, tergores batu
yang dilontarkan seseorang.

Cittt….ditekannya
rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju
tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah
perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain,
begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun
keluar mobil dengan tergesa-gesa.

Di tariknya anak itu yang
gemetar ketakutan, dan dipojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang
diparkir. "Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil
kesayanganku!!" "Lihat goresan itu", teriaknya sambil menunjuk
goresan
di sisi pintu. "Kamu tentu paham, mobil baru semacam itu akan butuh
banyak ongkos di bengkel kalau sampai tergores." Ujarnya lagi dengan
geram,
tampak ingin memukul anak itu.

Sang anak tampak sangat
ketakutan, dan berusaha meminta maaf. "Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar
minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa." Air
mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. "Maaf Pak, aku
melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti…."

Dengan
air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke
suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. "Itu disana ada kakakku.
Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tak kuat
mengangkatnya, dia terlalu berat. Badannya tak mampu kupapah, dan
sekarang dia sedang kesakitan.."

Kini, ia mulai terisak.
Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai
tercenung itu. "Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi rodanya?
Tolonglah, kakakku terluka, tapi di terlalu berat untukku."

Tak
mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Kerongkongannya
tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera, diangkatnya anak yang
cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal
miliknya, untuk mengusap luka di lutut anak itu. Memar dan tergores,
sama
seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.

Setelah
beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa
mereka akan baik-baik saja. "Terima kasih, dan semoga Tuhan akan
membalas perbuatanmu." Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan
pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus
mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.

Berbalik
arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya.
Disusurinya jalan itu dengan lambat, sambil merenungkan kejadian
yang
baru saja di lewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah
hal sepele. Namun, ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia
memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada
hikmah ini. Ia
menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat.

"Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu."

Teman,
sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan
dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan
melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu
hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk
menyelaraskannya untuk melihat sekitar?

Tuhan, akan selalu
berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita. Kadang, kita memang
tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap
ujaran-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan,
memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal
yang melintas.

Teman,
kadang memang, ada yang akan "melemparkan batu" buat kita agar kita mau
dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita….

Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.

NB : klo udah di post maaf yah… jangan di protes yah.. :D

LeSsOn

Sunday, August 21st, 2005

Hal yang sangat menyedihkan adalah saat kau jujur

pada temanmu, dia berdusta padamu. Saat dia telah

berjanji padamu, dia mengingkarinya. Saat kau

memberikan perhatian, dia tidak menghargainya. Hal

yang sangat mengecewakan adalah kau dibutuhkan hanya

pada saat dia dalam kesulitan.

Jangan pernah menyesali atas apa yang terjadi padamu!

Sebenarnya hal-hal yang kau alami sedang mengajarimu.

Saat temanmu berdusta padamu atau tidak menepati

janjinya padamu atau dia tidak menghargai perhatian

yang kau berikan, sebenarnya dia telah mengajarimu

agar kau tidak berperilaku seperti dia.

Bila kau dibutuhkan hanya pada saat dia sedang

kesulitan sebenarnya juga telah mengajarimu untuk

menjadi orang yang arif dan santun, kau telah

membantunya saat dia dalam kesulitan.

Hal yang menyakitkan adalah saat kau mencintai

seseorang dengan tulus tapi dia tidak mencintaimu atau

dia yang kau sayangi tiba-tiba mengirimkan kartu

undangan pernikahannya, sebenarnya hal ini sedang

mengajarimu untuk RIDHA menerima takdir-Nya.

Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering

kau alami atau bertemu dengan orang-orang yang

menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan.

Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang

dikecewakan, disakiti, tidak diperdulikan/dicuekin,

atau bahkan dicaci dan dihina. Sebenarnya orang-orang

tersebut sedang mengajarimu uuntuk melatih

membersihkan hati dan jiwa, melatih untuk menjadi

orang yang sabar dan mengajarimu untuk tidak

berperilaku seperti itu.

Mungkin ALLAH menginginkan kau bertemu orang dalam

berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan

sebelum kau bertemu dengan orang yang menyenangkan

dalam kehidupanmu dan kau harus mengerti bagaimana

berterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan

sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu.

To God I’m ThanKfUL

Friday, August 19th, 2005

I’m thankful for each strand of hair
That grows upon my head
I’m thankful for the clothes I wear
And for a nice warm bed.
 

I’m thankful for the caring friends
Who make me feel so glad
I’m thankful for a doctor’s care
When I am feeling bad.
               

I’m
thankful for my family
Who cheer me when I’m blue
I’m thankful for the Indonesia
And for our soldiers to

I’m
thankful for the gentle rains
That fall upon the earth
I’m thankful for the life it brings
And for a baby’s birth.

 

I’m thankful for a sky of red
In early morning light
I’m thankful for the setting sun
And for the stars at night.

 

I’m
thankful for a place to pray
And for the books I read
I’m thankful for a loving God
Who meets my every need.

Berandai…

Thursday, August 18th, 2005

Pekerjaan yang paling mudah dikerjakan adalah melamun.
Berandai-andai. Dalam lamunan, kita bisa menjadi apa saja dan melakukan
apa saja. Kita bisa berimajinasi menjadi Gatotkaca, superhero dari
Indraprasta yang berotot kawat, bertulang besi (mungkin karena rajin
minum susu berkalsium tinggi) lalu mengacak-acak Gedung Putih dan
menggantung Bush Jr. di ujung Patung Liberty. Biar nyahok (baca: tahu),
itulah bayaran menyakiti sesama kaum muslimin.
Dalam pengandaian, kita bisa membalik masa lalu. Make
everything right what gone wrong. Mungkin kita akan menuruti setiap
perintah ibu dan ayah kita, tidak akan menyakiti hati mereka. Kita juga
akan rajin mengerjakan PR sehingga tidak akan kena jewer atau kena
setrap wali kelas. Atau kita nggak bakal mau kenalan dengan video game
sehingga nggak akan addicted dengan ‘heroin’ elektronik itu. Buat
gadis-gadis yang pernah dihamili pacar-pacarnya mungkin akan berandai
nggak akan mengerjakan perbuatan terkutuk itu dan menanggung efek
depannya (suer, karena hamil memang melendung ke depan tidak ada yang ke
samping). Oh, we wish we can do that!
Tapi, mengandaikan sesuatu yang telah terjadi adalah kesia-siaan. Bahkan
tak terpuji. Masa lalu sudah terjadi, tak ada yang bisa mengubahnya.
Berandai-andai dengannya hanya memperpanjang penderitaan bahkan bisa
menjadi trauma. Itulah sebabnya Nabi saw. meminta kita untuk tidak
berandai-andai. Kata Beliau saw. "Jika sesuatu telah menimpamu maka
janganlah engkau sekali-kali berkata; ’seandainya aku melakukan begini
atau begitu maka hasilnya (pasti) begini’. Akan tetapi katakanlah:
‘Allah telah menakdirkan demikian, dan apa yang Dia kehendaki maka Dia
lakukan’."
Satu-satunya hal yang bisa kita kerjakan saat ini adalah menyimpan
kenangan pahit dalam folder memori kita. Ia adalah pelajaran yang tak
boleh terulang di masa depan. Bukankah keledai tidak akan jatuh ke dalam
lubang yang sama sampai dua kali? Dan, karena manusia bukan keledai –
bahkan bisa lebih bodoh dari keledai –, belajar dari kesalahan menjadi
penting. Muhammad the prophet says, "Tanda-tanda celakanya seseorang ada
empat; pertama, adalah melupakan dosa-dosa yang telah lalu padahal Allah
tetap mengingatnya…"
Jadi, biarkanlah air matamu meleleh dengan mengingat itu semua. That’s
better, ketimbang berandai-andai bisa mengulang masa lalu. Bila itu yang
kita lakukan, maka itu adalah sebuah kontemplasi. Merenung dan
memikirkan serta mencari pencerahan atas berbagai permasalahan kita.
Dan kontemplasi adalah perbuatan terpuji. Allah Swt. telah memerintahkan
manusia untuk banyak berkontemplasi. Di antaranya untuk memikirkan
kekuasaanNya, demi meneguhkan keimanannya.

”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergiliran siang dan
malam, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang
berakal, yakni yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan
berbaring dan memikirkan penciptaan langit dan bumi, kemudian berkata,
’Duhai Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan semua sia-sia, Mahasuci
Engkau dan selamatkanlah kami dari api neraka’.”(Ali Imraan: 190-191)

Kekuatan Maaf….

Thursday, August 11th, 2005

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah
pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi
wa sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah
disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah
tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah,
langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala
Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang melihat gelagat buruk pada
penampilannya menghadang.

Umar bertanya, "Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?"
Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, "Aku datang ke negri ini hanya untuk membunuh Muhammad!".

Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya.
Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan
perlawanan. Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya
kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu
tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah.

Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu.
Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik.
Kemudian Nabi berkata pada para sahabatnya, "Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?".

Para shahabat Rasul yang ada di situ tentu saja kaget dengan pertanyaan
Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh
orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari
Rasulullah.
Maka Umar memberanikan diri bertanya, "Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!"
Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar.
Beliau berkata, "Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu".

Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah.
Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, "Ucapkanlah Laa ilaha illa-Llah (Tiada ilah selain Allah)."
Si musyrik itu menjawab dengan ketus, "Aku tidak akan mengucapkannya!".
Rasulullah membujuk lagi, "Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah."
Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, "Aku tidak akan mengucapkannya!"

Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram
terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah
membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit
seolah-olah hendak pulang ke negrinya. Tetapi belum berapa jauh dari
masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri.
Ia berkata, "Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muahammad Rasul Allah."
Rasulullah tersenyum dan bertanya, "Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?"
Tsumamah menjawab,
"Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena
khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu.
Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena
mengharap keredhaan Allah Robbul Alamin."

Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, "Ketika aku
memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi
setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang
lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah."

Karena Loker sedih itu Harus diisi….

Saturday, August 6th, 2005

Sedih rasanya ketika melihat lab komputer penuh dengan teman-teman.
Sedih ga bisa sign in. Tiba-tiba saya bertanya pada diri, kenapa saya
harus sedih? Pertanyaan-pertanyaan pun muncul bak peluru yang
dimuntahkan. apakah saya kehilangan sesuatu, ataukah yang lain. Sedih
kenapa? Karena apakah saya harus bersedih. Pantaskah saya bersedih
karena tidak bisa sign in? Bukankah sudah mejadi peraturan tidak
tertulis di lab komputer, siapa yang datang terlebih dahulu dialah yang
berhak untuk Sign in ? Sign in dengan pasword mereka dan memulai
penjelajahan ke dunia cyber. Siapa datang terakhir antri atau silahkan
pergi. Sedih rasanya, padahal saya harus mencari jurnal-jurnal bahan
penelitian. Sedih.

Bentuk sedih tiap orang dan apa yang menyebabkan kesedihan itu berbeda.
Mungkin diantara kita ada yang sedang bersedih. Mungkin karena
merasakan langkah-langkah menjemput Unpredictable & unreasonable
person tak kunjung sampai di garis finish. Atau mungkin sedih karena
proses ta’aruf yang secara tiba-tiba dibatalkan sepihak, sedih karena
usulan Tugas Akhir kita ditolak oleh dosen pembimbing, sedih ketika
kita ditinggal oleh kedua orang tua yang sangat kita sayangi, sedih
karena hasil kerja kita tidak dihargai oleh atasan, sedih karena nilai
ujian yang jeblok, sedih karena anak atau saudara kita sakit, atau
sedihnya anak kost diakhir bulan melihat rangsum makanan menipis.

Apa itu sedih. Bukankah sedih itu adalah ketika kita tidak menerima
kenyataan yang sesuai dengan keinginan. Lalu bagaimana sedihnya para
sahabat Rosul? Bagaimana dan apakah yang membuat mereka bersedih?
apakah mereka akan bersedih karena tidak bisa sign in. Tampaknya tidak.
Luchu ya, saya menertawakan diri saya saat itu. saya sedih karena hal
yang sebegitu sepele.

Memang sedihnya para sahabat gimana ya? Kesedihan para sahabat kecil
ketika tidak diperbolehkan ikut berperang karena umurnya yang masih
kanak-kanak, Pada saat persiapan Perang Uhud. Sebelum pasukan
berangkat, banyak anak-anak yang sangat ingin ikut serta berjihad
bersama Rosul. Mereka masih belia, ada yang baru berusia 15 tahun
bahkan banyak yang lebih muda. Mereka adalah Usamah bin zaid, Abdullah
bin Umar, Zaid bin Tsabit, Barra bin Azib, Amru bin Hazm, Usaid bin
Zuhair, Rafi’ bin khudaij dan Samurah bin Jundab. Setelah diteliti
Rasulullah SAW, semuanya belum dianggap layak karena masih kanak-kanak
dan baru baligh. Mereka pun tampak Sedih.

Sedihnya salafus soleh yang tidak tahajud tadi malam, sedihnya sahabat
Umar bin khattab ketika tidak bisa sembahyang bareng-bareng berjamaah
bersama Rosul. Hingga beliau menginfakkan kebunnya.
Sedihnya sahabat….betapa malunya kita ketika sedih yang kita rasakan
bukanlah sedih para sahabat nabi dan sedih para sahabat nabi bukanlah
sedih kita (yang sesedih-sedihnya). Ingin menangis sedih, melihat diri
kita yang sedih, sedihnya berbeda dari sedihnya sahabat Rosul.

Sedih itu dapat diibaratkan seperti lautan, tiap-tiap degradasi warna
biru akan menandakan perbedaan kedalamannya. Seperti itu pula sedih,
sedih dalam hati kita ada yang dangkal dan ada pula yang dalam. Dilihat
dari kualitasnya, sedih bisa dibaratkan seperti loker. Loker teratas
atau loker pertama adalah sedih yang paling berkualitas, sedihnya para
sahabat Rosulullah. Kemudian loker nomor dua, yang kualitasnya dibawah
itu dan seterusnya.
Kenapa harus dilihat kualitasnya? Sedih seperti emosi yang lain
berpusat pada bagian otak bernama Amygdala. Telah Allah ciptakan sedih
dan perangkat untuk merasakannya, tentu bukanlah sesuatu yang sia-sia
bukan? Loker sedih nomor satu adalah loker sedih para sahabat nabi,
sedih berkualitas. Karena sedihnya itu akan mendekatkan diri mereka
kepada yang telah menciptakan rasa itu. Itulah yang saya maksud dengan
kualitas.

Dan perlu kita tanyakan ke diri kita masing-masing, apakah kita masih
mengisi loker teratas ini? Apakah kita sudah mencoba untuk mengisi
loker ini dengan sedih yang berkualitas, produktif. Ataukah loker
terbawah dari sedih yang sering kita isi, bahkan hingga penuh. File
sedih loker no 1-yang jelas saya percaya anda sudah bisa menyebutkan
sedih yang seperti apa yang akan mengisi loker sedih nomor satu (loker
punya anda sendiri).
Setidaknya, kita bisa melarikan sedih-sedih loker kedua kebawah
kepadaNya, yang telah menganugerahkan rasa itu (Conecting to Allah).
Sehingga ibaratkan hp, sinyal koneksi kita kepada Allah selalu penuh.
Bukan sedih yang membuat sinyal di layar kehidupan kita empty atau no
signal.
Karena hidup tak selalunya indah,
Langit tak selalu cerah,
suram malam tak berbintang
Setitis derita melanda, segunung karuniaNya

sumber : izza

cEwEk, WaniTa, PereMpuAn…

Saturday, August 6th, 2005

Ia lembut bukan untuk diinjak,
rumput yang lembut akan dinaungi oleh pohon yang kokoh dan rindang.
Jika lelaki berpikir tentang perasaan wanita,
itu sepersekian dari hidupnya….
tetapi jika perempuan berpikir tentang perasaan lelaki,
itu akan menyita seluruh hidupnya…
Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki- laki,
karena perempuan adalah bagian dari laki-laki…
apa yang menjadi bagian dari hidupnya,
akan menjadi bagian dari hidupmu.
Keluarganya akan menjadi keluarga barumu,
keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga.
Sekalipun ia jauh dari keluarganya,
namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada karena ia lahir dan dibesarkan di sana….
karena mereka,
ia menjadi seperti sekarang ini.
Perasaannya terhadap keluarganya,
akan menjadi bagian dari perasaanmu juga…
karena kau dan dia adalah satu….
dia adalah dirimu yang tak ada sebelumnya….

mEmeLihaRa LuKa..

Saturday, August 6th, 2005

Satu hal yang tidak aku suka dari diriku adalah ,
aku sering memelihara luka. Ketika ada seseorang
yang menancapkan belatinya tepat di hatiku, maka
seketika itu aku akan merasakan luka yang
dalam , menghujam sampai ke akar, meskipun aku
sadar sesungguhnya belati itu tidak pernah sampai
ke akar hatiku, tetapi aku selalu terus membiarkan
lukanya bernanah, membusuk dan sampai berbau.
Suatu saat belati-belati itu memang dicabut
kembali oleh pemiliknya, dengan maafnya, tetapi
bekas luka yang ditinggalkan tidak jua
kubersihkan. Justru aku lebih sering
memeliharanya dengan memberi pupuk,
menyiraminya dengan air dan cahaya yang cukup,
hingga luka itu dapat tumbuh subur. Ketika luka-
luka itu mulai mengakar, menyebar, rimbun dan
memenuhi rongga hatiku, maka cahaya matahari
menjadi sulit untuk masuk menyinari lahan hatiku.
Gelap, aku sulit melihat dan sesak untuk bernafas.
Di saat seperti itulah aku baru tersadar, bahwa
luka itu sudah sangat liar dan rimbun dahannya
tidak teratur bahkan menutupi ruang masuknya
cahaya. Aku memangkasnya sedikit demi sedikit,
dari mulai daunnya, dahan hingga yang paling
tersulit sekalipun, yaitu akarnya. Aku tidak ingin
menzolimi ruang hatiku dari hak nya mendapatkan
cahaya.
Aku tahu, sama sekali tidak ada manfaatnya
memelihara luka, justru akan mematikan rasa di
hatiku. Bahwa seperti hal nya aku, orang-orang
yang sudah melukai hatiku adalah juga manusia
biasa. Aku pun bukan tidak mungkin pernah juga
menanamkan benih luka di dalam hati sahabat-
sahabatku, dan aku juga tidak ingin mereka
memelihara luka yang pernah aku tancapkan dan
sudah kubersihkan dengan untaian maaf.
Aku sedang ingin berproses memiliki hati yang
bening, agar luka apapun yang pernah singgah,
tidak akan kubiarkan mengendap lama, karena
beningnya hatiku akan mampu menetralisir luka
itu. Allah yang sangat suci saja maha pemaaf, lalu
kenapa aku yang hina dina ini harus
mempertahankan egoku untuk sebuah kata maaf?
Aku tidak ingin lagi memelihara luka karena aku
tidak akan memanen buah yang manis, tapi justru
kehinaan yang kelak akan kudapat.

BUKU TELEPON…

Friday, August 5th, 2005

Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu percakapan yang menarik. Seorang guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas. Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan.

"Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini. Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuatmu bahagia? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini?" Murid-murid tampak saling pandang.
Terdengar suara lagi dari guru, "Ya,ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidupmu…". Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan guru itu menunjuk pada seorang murid. "Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui? Berbagilah dengan teman-teman! mu…"

Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid, "Seminggu yang lalu, adalah masa yang sangat besar buatku. Orangtuaku, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang aku impikan selama ini".
Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu.
"Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu!"

Sang guru tersenyum. Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya. Maka,terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir. Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri. Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung. Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara, hingga terdengar suara dari arah belakang.

"Pak Guru..Pak, aku belum bercerita".

Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar. Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya.

"Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua", ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu. "Apa hal terbesar yang kamu dapatkan?", Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.

"Keberhasilan terbesar buatku, dan juga buat keluargaku adalah..saat nama keluarga kami tercantum dalam buku telpon yang baru terbit 3 hari yang lalu".

Sesaat senyap. Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu. Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak mendengar cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang berkomentar, "Ha? aku sudah sejak lahir menemukan nama keluargaku di buku telpon. Buku Telpon? Betapa menyedihkan…hahaha".

Dari sudut lain, ada pula yang menimpali, "Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat sel! ain hal yang lumrah semacam itu?"

Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan. Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan.

"Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak…"

Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara. "Ya. Memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah aku dapatkan. Dulu, Ayahku bukanlah orang baik-baik. Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa dikejar polisi".
Matanya tampak menerawang. Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan.
"Tapi, kini Ayah telah berubah. Dia telah mau menjadi Ayah yang baik buat keluargaku. Sayang, semua itu butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja. Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Ayahku. Dan kini, Ayah berhasil. Bukan hanya itu, Ayah juga membeli sebuah rumah kecil buat kami. Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi". "Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluargamu ada di buku telpon? Itu artinya, aku tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan ayah untuk terus berlari. Itu artinya, aku tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang aku sayangi. Itu juga berarti, aku tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang dingin. Dan itu artinya, aku, dan juga keluargaku, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya". Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir.
"Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang aku dapatkan nanti…".

Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk. Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan.Mereka juga belajar satu hal :

"Bersyukurlah dan berbesar hatilah setiap kali mendengar keberhasilan orang lain. Sekecil apapun… Sebesar apapun".